Pemuda merupakan pelaku perubahan
suatu bangsa. Siswa SMP sampai SMA bahkan mahasiswa adalah pemuda atau dapat
dikatakan bibit-bibit unggul yang kelak akan memimpin bangsa ini. Namun kini
tidak sedikit pelajar yang terjebak dalam perilaku negatif seperti aksi tawuran,
kekerasan dan bentrokan pelajar atau mahasiswa bahkan tidak jarang pula
yang terlibat pemakaian barang haram seperti ekstasi, shabu, ganja dan
sejenisnya. Selain itu, banyak pemuda khususnya mahasiswa yang hanya kuliah,
tidak berusaha menambah softskill dibidang
lain sehingga ditakutkan setelah wisuda nantinya mereka tidak memiliki kesiapan
mental dan kedewasaan untuk menghadapi persaingan di dunia usaha/industri.
Padahal apabila perilaku tersebut terus dipelihara maka akan berpotensi merusak
pribadi para pemuda bangsa ini. Pelajar memasuki masa remaja yang penuh dengan
keegoan, kelabilan yang sedang mencari identifikasi diri atau karakter.
Sedangkan mahasiswa merupakan cendekiawan muda yang seharusnya mampu memberikan
sentuhan yang positif kepada bangsa ini melalui kecerdasan dan keahlian yang
dimilikinya. Hal ini sesuai dengan peran mahasiswa sebagai agent of change, yang seandainya diterapkan dengan baik akan
menyebabkan perubahan yang baik untuk kemajuan bangsa ini. Oleh karena itu,
pemuda baik pelajar maupun mahasiswa seharusnya dipersiapkan sejak dini dan
dapat berkolaborasi untuk bersama-sama menjadi pribadi yang cerdas dan
berkarakter. Berkarakter disini maksudnya berkepribadian dan berperilaku
sedangkan pendidikan karakter merupakan salah satu upaya yang tepat untuk
menanamkan aspek nilai-nilai luhur bangsa sehingga melahirkan generasi pemuda
yang amanah untuk memimpin dan menyejahterakan bangsa ini.
Pemimpin merupakan ujung tombak dari
kemajuan sebuah Negara. Tidak dapat dipungkiri kini banyak sekali para pemimpin
yang menyalahgunakan amanah yang telah diemban ketika mereka duduk di bangku
pemerintahan. Apalagi dorongan politik khususnya berorientasi pada uang dan
kedudukan yang kuat terkadang meruntuhkan prinsip seseorang yang sebenarnya
baik dalam memimpin bangsa ini. Oleh karena itu diperlukan suatu wadah yang
menampung dan membimbing para generasi muda agar senantiasa berada dalam
koridor yang benar. Salah satunya melalui sanggar “yang muda yang berkarakter”
dengan tujuan untuk menanamkan budi pekerti kepada generasi muda dengan melibatkan
aspek pengetahuan (cognitive),
perasaan (feeling), serta tindakan (action).
Sanggar “yang muda yang berkarakter”
merupakan wadah dari kumpulan orang yang berkeinginan untuk berkontribusi dalam
memajukan bangsa ini khususnya generasi muda mulai dari SMP sampai mahasiswa.
Pengurus/organizer sanggar ini dapat
dilakukan oleh mahasiswa yang didampingi oleh para kader di sebuah desa/daerah.
Mahasiswa sebagai organizer berperan
dalam mendampingi para pelajar/leader
untuk belajar mengkaji solusi atas permasalahan yang terjadi pada negara ini
seperti kemacetan, kebanjiran, bencana alam dan lain-lain melibatkan aspek pendidikan
karakter yaitu pengetahuan (cognitive),
perasaan (feeling), serta tindakan (action) sehingga nantinya akan berguna
ketika mereka hidup bermasyarakat bahkan sebagai pemimpin. Misalnya di
Indonesia kini sedang terjadi bencana banjir di berbagai daerah kemudian di
sanggar nanti akan diajarkan pengetahuan mengenai pengertian banjir, penyebab
terjadinya banjir, cara mencegah terjadinya banjir dan sikap kita dalam
menyikapi hal tersebut. Ketika pengetahuan para leader mengenai banjir telah dikuasai dan perasaan empati sebagai
sesama manusia telah timbul maka langkah selanjutnya adalah melatih mereka
untuk menggalang dana sesuai target demi membantu saudara kita yang terkena
banjir dan terjun ke lokasi banjir untuk melihat situasi secara langsung serta
memberi semangat kepada para korban. Dari kasus tersebut tersirat berbagai
karakter yang berusaha ditimbulkan pada diri pelajar diantaranya berpikir
cerdas mengenai bahaya banjir, empati terhadap sesama, kreativitas dalam
menggalang dana, bertanggung jawab atas amanah yang diberikan dan kedewasaan
dalam bertindak agar nantinya banjir tidak melanda daerah mereka. Ketika organizer belum menguasai materi yang
akan diajarkan maka telah menjadi kewajiban mereka untuk belajar terlebih
dahulu sehingga nantinya pelajar dan mahasiswa sama-sama belajar. Organizer
dituntut untuk belajar dan mengajarkan ilmu kepada leader sedangkan leader bertugas
memahami materi yang diajarkan dan nantinya ketika sang organizer telah purna tugas maka pelajar lama/ old leader dapat mengajarkannya kembali kepada pelajar baru/ new leader.
Pemimpin yang memiliki kepribadian
sebagai pelaksana lebih baik apabila dibandingkan dengan pemimpin yang hanya
mengonsep suatu hal karena dengan melaksanakan sesuatu kita menjadi tahu akan
ilmu dari suatu hal dibandingkan hanya mengonsep dan bermimpi besar namun dia
tidak dapat merealisasikan konsep yang telah dia rancang. Padahal orang yang
bertindak sebagai pelaksana itu biasanya dimulai dari posisi paling bawah
terlebih dahulu baru ketika dia telah menguasai suatu ilmu dia berani mengonsep
dan berbuat untuk mengembangkan ilmu yang telah dimilikinya. Hal ini pula yang
terjadi ketika pelajar lama/ old leader
diajari oleh mahasiswa/ organizer, old leader posisinya sebagai penerima
ilmu dan pelaksana sedangkan organizer
sebagai pengonsep dan pelaksana namun ketika organizer telah purna tugas maka old leader diberi kesempatan untuk mengonsep strategi maupun materi
serta melaksanakan tanggung jawabnya sebagai pentransfer ilmu.
Apabila melalui sanggar “yang muda yang
berkarakter” pendidikan karakter di Indonesia ini dapat diterapkan secara
sistematis dan berkelanjutan maka untuk beberapa tahun ke depan bangsa ini akan
lebih maju lagi karena tersedia para pemimpin yang cerdas, bermoral dan
berkarakter dalam mengarahkan bangsa ini untuk keluar dari permasalahan yang telah
lama menggelayuti bangsa ini seperti kemiskinan, kesehatan, kemacetan dan masih
banyak lagi. Apabila terdapat pemimpin yang hanya cerdas dalam mengonsep namun
kurang cerdas secara teknis dan emosional mungkin sang pemimpin akan menyerah
begitu saja dengan berbagai resiko yang harus dihadapi atau bahkan sang
pemimpin hanya dapat mengeluh dalam menghadapi kompleksitas masalah yang wajib
dipecahkan. Pemimpin yang berpotensi mengarahkan bangsa ini ke arah lebih baik
adalah generasi muda yang cerdas dan berkarakter mulia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar